i got these youth passion in me and it's about to explode / so chill / laugh

 

Gak ada, yah, souvenir pernikahan, pasangan nikah . .

Wisnu Dewanto. Ketika England sudah gugur dari Piala Dunia.

[Flash 10 is required to watch video]

selamat wisuda ars 2006!

senang bersamamu !!

pria - pria labil 2006.

I took it when I was in Jakarta, close to the place where I live. These kind of scenery do still exist in Jakarta. 

Haha.

bandara soekarno hatta.

berbagi apapun yang didapat (Yb. Mangunwijaya)

 

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah saya muat di notes Facebook saya, tertanggal 26 April 2009. 

Hm.. kira - kira awal april atau akhir maret kematin ya?
saya agak lupa. tetapi, waktu itu saya diberi kesempatan untuk pergi ke jogja dan menelusuri karya-karya Romo Mangun.

Mungkin beberapa di antara anda sudah tahu Romo Mangun, dan jadi anggota fansnya yang sekarang kira-kira sudah 22 ribu orang. 
Namun, apakah anda sekalian pernah melihat dan merasakan karyanya secara langsung?
Mungkin ada yang sudah dan ada yang belum.
Atau ada yang sekedar ikut-ikutan jadi fansnya, belum tahu.
Sebelumnya, berterimakasih kepada Indra Pramana yang mengenalkan saya (tentu secara tidak langsung) kepada Y.B. Mangunwijaya, ketika itu ia sedang memfotokopi buku Wastu Citra, yang saya bingung. 
“Bukan buku arsitektur yah ndra?”
“Yah fotokopi dulu aja deh Jin, bagus kok.”
Memang saya salut sama Indra yang memiliki pengetahuan yang luar biasa, namun terkadang produk yang ia keluarkan seringkali sebuah amarah yang luar biasa pula (haahhahahaha. bercanda loh ndra).

Singkat cerita, disitulah saya awal mula mengetahui Y.B. Mangunwijaya, belum mengenal.

Sebenarnya atmosfir yang ditawarkan DI Jogja memang berbeda. Berbeda sekali dengan Jakarta-tempat kelahiran saya, ataupun Bandung-tempat saya sedang menempuh pendidikan ber-arsitektur.

Jogja..
It is not easy to describe a place, unless you give a value to it.
As we know already, a space become a place if you put a value into it.

Jogja itu, mungkin mencerminkan masyarakatnya.
Kalem.
Saat itu bagi saya, yang sedang dirundung permasalahan, baik akademik maupun non akademik, bagaikan sebuah asylum. 
Tenang. 

Lantas saya berpikir, mungkin memang di tempat seperti Jogja ini, saya dapat merasakan Arsitektur (wastu citra) yang sesungguhnya.

awalnya, kami semua, yaitu Anexus Philosophus, Mas Umbu, Boti, Binsar snap-snap-snap, dan kokommakantidur, tiba pukul 5 pagi di Jogja
Setelah beristirahat sebentar kami langsung pergi menuju Sendang Sono, sebuah tempat berziarah.
Disana mungkin ibaratnya orang pertama kali berkenalan, kita butuh proses mencerna.
Saya sendiri belum bisa berpendapat apa-apa, selain arsitektur yang dirasakan adalah suatu ruang-ruang yang menawarkan keheningan dan pencerahan berfikir dan juga ada bentukan-bentukan pemecah keheningan, dikala keheningan itu menjadi bising. 

selanjutnya, kami pergi ke Gereja Salam, Maria Assumpta, aduh sampe lupa. ada 5 atau 6 yah nex? saya agak lupa.
bukan berarti karyanya fogettable, tapi memang saya seorang pelupa, lebih tepatnya.

Ketika berkunjung ke Gereja Maria Assumpta di Klaten,
Oh iya, disana Job desc saya adalah seorang supir, jadinya, yah kalo lupa-lupa yah karena saya mengantuk.Jogja-klaten. Jogja-mana. Jogja - mana, dan seluruh penumpang tidur. Jadi agak ikut merasakan perasaan mas-mas jasa travel Bandung-Jakarta.

Di gereja itu sedang melaksanakan Minggu Palem. suatu pra acara menyambut kebangkitan Yesus Kristus.
Disana, mba kokom dan mba Bothie agaknya canggung untuk ikut masuk dan merayakan.
sayapun sebenarnya lapar dan hendak mencari makan. 

Kitapun akhirnya naik becak, dan pergi ke alun-alun kota.
Makan Soto hanya 3ribu rupiah semangkuk. wah dimanalagi. 
tadinya mau makan KFC - Klaten Fried Chicken. ada lho! beneran! sungguhan!

Itu selingan aja.

Gereja Maria Assumpta ini terinspirasi dari Ron Champ-nya Corbu. maka bukaan-bukaan yang mendapatkan sinar, yang agaknya terkomposisi secara abstrak (saya yakin ada makna dibalik irama bukaan tersebut), terinspirasi dari sana.

yang paling membekas bagi saya adalah perjalanan terakhir. Perjalanan terkhir adalah Kuwera, yang notabene adalah rumah dari Y.B. Mangunwijaya. Disana saya dikenalkan dengan Mba Dini, selaku asisten paling terakhir dari Y.B. Mangunwijaya. 
Disana kami berdiskusi, mencoba mngenal Y.B. Mangunwijaya dari perspektif orang lain. 
Lalu kitapun melihat - lihat rumahnya
Buat saya, rumah itu luar biasa. Saya terenyuh.
Y.B. Mangunwijaya memiliki perpustakaan sendiri, dimana sudah terdapat pembagian seperti, 
bidang sosial, politik, budaya,agama, sastra, seni, dan arsitektur dan banyak lagi.

Perlu anda ketahui, Y.B. Mangunwijaya bukanlah seorang spesialis. Ia adalah seorang Generalis. silahkan selami sendriri maknanya.

Disana saya merasakan program ruang yang ber-irama, program ruang yang bergerak dengan dinamis dimana Y.B. Mangunwijaya melakukan penerapan leveling yang berbeda. Jadi tidak hanya sekedar rumah 2 tingkat. Tetapi seperti rumah bertingkat-tingkat, karena ada kualitas ruang yang berbeda.
Ada ruang yang dalam event tertentu dapat beralih fungsi menjadi ruang beribadah. Yaitu ruang makan, dan tetap ada mimbar, dimana Y.B. Mangunwijaya sebagai seorang Pastur, dapat menginjil.

Wah, anda harus kesana sendiri. Karena bagi saya yang dalam kapasitas mahasiswa, kosa kata yang dapat saya jabarkan untuk menjelaskan sepertinya masih terbatas.

Pernah saya bebagi pengalaman akan hal ini kepada teman saya, dan seorang lulusan Unpar.
Ketika saya bercerita, entah mengapa lulusan ini langsung berpendapat.
” Wah ngapain bikin bangunan gitu, itu cost-nya dan blablablablabla”
Wah tentu saya kecewa. Mengapa lulusan ini dapat berpikir sperti itu ya? Maksud saya langsung berpikir untung-rugi. Mengapa ia, sebagai lulusan arsitektur, tidak berbicara lebih secara arsitektural. Dalam artian, kualitas ruang yang ada. Atau misalnya fungsi nya sebagai rumah dan pada konteks seorang Y.B. Mangunwijaya.

kita tinggalkan saja pembicaraan tersebut.

Sebenarnya apa yang saya dapat itu begitu banyak, namun susah untuk diungkapkan. 
Yang saya paling ingat adalah ketika Mba Dini mengatakan :
” Y.B. Mangunwijaya itu sangat percaya akan proses. Seperti misalnya kita di proses oleh lingkungan sekitar. Lantas sebagai manusia, jangan hanya mau menerima proses apa yang diberikan oleh lingkungan, namun apa yang dapat kita berikan juga kepada lingkungan kita? Disanalah ada proses. Manusia itu hidup dengan proses. Ada suatu diagram, dimana menunjukkan hubungan segitiga, yaitu antara kita dengan Allah Pencipta, dan dengan sesama ciptaan Nya, termasuk lingkungan. Romo percaya itu. Hal itu ditunjukkan melalui detil-detil yang sangat cantik. Mungkin kita berpikir, bahwa sulit sekali untuk perawatannya, untuk maintenance dsb, tetapi, kita jangan menyukai rumah kita kalau sedang bagus saja, ketika kita (seandainya memiliki rumah beribu detail seperti Romo Mangun) sedang merawat dan membersihkan detil-detil itu, Romo percaya bahwa disitulah kita berproses, dan bertumbuh untuk mencintai rumah kita (ataupun wastu citra)”

Jawaban itu langsung mengena. Langsung terenyuh.

Banyak kesan yang saya dapat. dan melalui perjalanan seperti inilah, saya semakin menyadari bahwa profesi yang akan saya geluti ini, menyentuh banyak aspek. 
perlu anda sadari kapasitas seorang arsitek. Sejauh mana sebuah karya arsitektur menyentuh kehidupan orang banyak.

Saya bingung, kenapa Y.B. Mangunwijaya tidak dimasukkan ke dalam materi perkuliahan di Unpar, dalam mata kuliah Sejarah dan Teori.
Mungkin karena nanti akan jadi Mata Kuliah khusus sendiri? Entah.

Semua itu menimbulkan pertanyaan di dalam diri saya, dan mungkin untuk anda sekalian juga.
Saya mau jadi arsitek yang bagaimana?
Dan kalau saya, setelah lulus, apakah saya mau menjadi arsitek?
haha. 

Silahkan anda masing-masing menjawab.

Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan ini, mohon maaf bila ada kata-kata yang salah .
Sukses menjalani hidup.
Tuhan Yesus memberkati.

A must seeeeeee !!!!!!!!

Please do remember “wali” band song first.

Reporter E! news dalam acara Makelars 2008

Intro :

Baru bangun dari malam yang melelahkan namun benar - benar menyenangkan. 

Makelarsnya seeruuu piisssaaaannn. huhuy. jeuleh.

———————————————————————————————————————-

Sangat disayangkan bagi para masyarakat arsitektur yang tidak hadir pada acara Makelars kemarin. Setidaknya kemarin banyak aksi - aksi mencengangkan (jaws dropping).Sebut saja Anex. Anex. Anex ketika datang. Anex ketika manggung. Anex ketika joget. 

Luarbiasa.

Selain karena pakaiannya yang memang mirip seorang pria tunasusila, kelakuannya-pun sebanding dengan kemiripan itu.  

Mungkin dikarenakan tema yang diangkat berkenaan dengan olahraga, terutama sepakbola, lantas dengan tidak tahu malu, aneks (aneh maksimal), melakukan peregangan otot dengan bermacam - macam gerakan dan bermacam - macam gaya. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi nampaknya ia berhasil dalam menciptakan pensuasanaan yang berbeda.

Memang, sepertinya bukan hanya tindak - tanduk perilaku pria yang bernama asli, Andreas Yanuar ini saja yang menjadi suatu point of view. 

Malam itu dihadiri juga oleh Balung (baca : Anindito Wisnu), 20 , sang gitaris handal, yang rupanya sekali naik panggung, tidak akan pernah turun. Ia membawakan musik - musik rock kencang dan nampaknya hanya dapat dinikmati bagi kalangan tersendiri. Lalu ada Ejjamm ,32, yang sepertinya sedang mengalami kepenatan luar biasa, sehingga menyebabkannya berteriak tidak karuan di atas panggung. Ada juga band Madu, 33, membawakan tembang - tembang  lawas yang melankolis romantis - seperti juga orang itu sendiri- dengan gaya akustik. Tidak hanya Madu sendiri yang menjadi vokalis pada malam itu, namun Joko (umur disamarkan dengan maksud untuk tetap membuka peluang bagi para wanita berjilbab maupun tidak dari segala umur) juga mendapatkan kesempatan untuk bernyanyi, dengan suara falsetto yang merdu sekali. Sampai terkadang telinga menjadi sakit. Kemudian, pada saat lagu terakhir dimainkan, Rivani Chandra , 22, naik ke atas panggung dan ikut ber- akustikan dengan memainkan alat musik biola.

Malam itu begitu penuh dengan genre musik lagu. Dari jazz, yang sempat dibawakan oleh Eva, 19, hip - hop, yang dibawakan oleh personil band yang sama, yaitu Gre , 18, Luky , 18, dan Ari , 18- namun dengan vokalis yang berbeda, yaitu Geetha hip hop , 22. Disela- sela aksi panggung Geetha, Aneks kemudian naik, dan ikut meramaikan suasana. Lalu ada juga Britpop, yang tentu saja dicanangkan oleh Andy London, 16, yang kemudian menciptakan suatu kolaborasi dengan berbagai angkatan, dari Monoks,34, hingga Eugene, 20. Eugene, yang diwawancarai ketika itu , menerangkan bahwa ia diminta untuk melakukan suatu aksi panggung dengan gaya Britpop yang memang cederung gay. Ia dimandat untuk melakukan gaya - gaya yang berusaha untuk menarik ketertarikan kaum lelaki,  lantas , bagaimana tanggapan Eugene akan hal itu ? “How can I be gayer ? Please. Tell me “. Kurang seru nampaknya kalo pada acara malam itu tidak dihadiri oleh Boncu (baca : boneka lucu) ,16, yang membawakan lagu - lagu Limpbizkit dan Linkin Park. Penonton meloncat - loncat dan ikut menyanyikan lagu - lagu yang dibawakan oleh Bandnya tersebut. Such a crowd pleaser.

Selain itu, ada juga flashmob, yang dilakukan oleh hampir 60 orang. Suatu gerakan tari yang dilakukan secara massal ini, dikoordinir oleh Adhika Annissa, 12, yang walau memang kecil, namun tampaknya begitu enerjik. Berkat kegemarannya yang konon meminum Kombantrin. Flashmob ini nampaknya berhasill menarik perhatian penonton yang lain untuk ikut berpartisipasi dan ikut menari . Walaupun gerakannya menjadi tidak kompak, namun cukup meramaikan suasana. 

Malam kian larut, dan jurus - jurus pamungkas - pun mulai dikeluarkan satu persatu. Mulai dari Raygava Et Al dan pendampingnya yang, manis, lucu, seksi, dan nampak polos,yang membawakan lagu - lagu dari Magic Numbers hingga Kings of Leon, hingga Chalk For Cheese, yang memang belum pernah berhasil untuk mengecewakan penggemarnya, seperti saya - dan ketika CFC sedang bermain di atas panggung, muncullah teriakan mengenai Anya, yang terus dielu - elukan kepada Bapak Bangor Arsitektur, Ferdy Apriadi,39. Malam itu , entah sudah berapa macam keisengan yang dilakukannya dengan tetap berwajah datar. Sebut saja berpura - pura menjadi satpam siskamling, lantas ia membenturkan pipa besi ke tiang lampu , untuk sekedar memberitahukan waktu saat itu. Namun ketika dielu - elukan mengenai Anya, wajah datarnya itu kemudian menjadi malu dan hanya bisa menyebut “anj*ng , anj*ng” .

Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang Waktu Indonesia Bagian Gedung 5 ( baca : 00.30 WIB ) , ketika Ditto Setiasa, merayakan ulang tahunnya yang ke -42. Seolah - olah ia masih muda, seolah - olah ia berulang tahun yang ke - 21, masyarakat yang lain kemudian menyiram nya dengan bermacam - macam jenis air hingga kopi, menggesek bagian vitalnya ke pohon, hingga menumpahkan seisi tong sampah padanya. Hal semacam ini memang lazim dilakukan di jurusan ini, dan Ditto pun senang sekali nampaknya. 

Seiring berlangsungnya perayaan Ditto, dibuka jugalah acara DD Show. Acara ini melatunkan lagu - lagu lawas, baik dalam negeri, hingga luar negeri. Acara ini dibawakan oleh Dede Kurnia Epi, 18, yang selain lincah, enejik, dan berpengetahuan luas dalam soal musik, juga rupanya pewaris kerajaan Rumah Makan Masakan Padang, Andalas. Entah sudah berapa cabang yang sudah dikembangkan oleh Dede, di umurnya yang masih muda belia itu- dan acarapun terus berlangsung hingga pukul 15.00 WIG5 (baca : 03.00 WIB).

Sebenarnya banyak sekali pengisi acara pada malam itu. Banyak sekali genre musik yang ditampilkan, dan banyak sekali star performance. Sayangnya, memang publikasi akan acara ini nampaknya minim sekali. Seolah - olah tidak membutuhkan publikasi. Entah karena mereka merasa masyarakat tidak perlu dilibatkan dalam prosesnya, ataupun karena mereka memang sudah fasih dalam ber-acara , ataupun karena waktu yang tidak cukup. Dari segi dekorasi pun , memang kurang arsitektural. Padahal itulah yang menjadi point of interest acara-acara arsitektur. Terlihat dari hasil, bahwa proses yang dilakukan berjalan dengan kurang baik. Namun apa daya jika para panitia sendiri , hanya berorientasi kepada hasil. Toh, setidaknya , hal itulah yang nampaknya diajarkan kepada mereka.

Namun,di sisi lain, dalam acara ini  ada suatu hal baru yang segar, yang belum pernah ada sebelumnya, namun berhasil menciptakan suatu interaksi bagi seluruh penonton. Tidak muluk - muluk, tidak berdigital ria, hanya suatu tarian, namun sangat menarik.

Memang masih perlu untuk belajar dan banyak  kesempatan untuk memperbaiki kinerja mereka.  Buat saya, acara malam itu menyenangkan, dan memang seru, dan saya ingin untuk ikut dalam acara- acara selanjutnya. 

Secara keseluruhan, malam itu saya merasa sebagai bagian dari suatu acara anak SMP yang enerjik dan menyenangkan. 

AWeSOME!

Reporter E, meliput acara Makelars 2008 , 05 Juni 2010. 

Surat Cinta dari B.J. Habibie untuk Sang Kekasih

ranggi:

silentrefraction:

(Indonesian version)

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan, calon bidadari surgaku…

- B.J. Habibie

===========

(English Version)

Truth be told, this is not about your death. It never was. 

I am very aware that everything will cease to exist at the end of the day, and death is an absolute, and this is your path to walk on, this is your time to go. I know that perfectly well. 

But what struck me to the very core is the fact how death can undoubtedly erase all existing happiness within a person, and in a blink of an eye create an abysmal turmoil and grief. My heart has seemed to lose its composure and my body is now merely void without a soul, without substance.

You know, love, it feels like the wind has suddenly dissolved into a long winding drought.

With the tears shed for you this time, I attached an endless goodbye message. For the loyalty you carved into my life, for the bittersweet memories when you were still here. It is not that I want to complain, but really, it feels to me you had stayed only too briefly and left too early.

Everyone presume that it is I who was the ultimate lover for you, dear, but what had escaped from their knowledge is the fact that you were the person who changed me into one.

How could I stay loyal when my tendency was to stray? But you showed me what loyalty means, relentlessly you showed me until I embraced it. You taught me love, until I am now capable to love you this contently.

Goodbye,

You were given by Him, and you will return to Him. You were once nowhere for me to be found and now you are back to nowhere for me to be found.

Goodbye, my dear, the light of my sight, the care to my soul. Goodbye, my dear heavenly angel…

- B.J. Habibie